5 praktisi parenting islam
5 praktisi parenting islam

5 Praktisi Parenting Islami di Indonesia yang Memiliki Latar Belakang Pendidikan Pesantren

Rate this post

Menjadi orang tua bukan sekadar memastikan anak makan, sekolah, dan mendapatkan fasilitas terbaik. Lebih dari itu, parenting adalah proses mendidik manusia—membentuk cara berpikir, akhlak, kebiasaan, keberanian, tanggung jawab, sekaligus hubungan anak dengan Allah SWT.

Karena itu, semakin banyak orang tua dan lembaga pendidikan yang mulai mencari praktisi parenting Islami di Indonesia yang tidak hanya memahami teori pengasuhan modern, tetapi juga memiliki pengalaman dan wawasan yang dekat dengan pendidikan pesantren.

Ada alasan mengapa latar belakang pesantren menjadi menarik.

Pesantren tidak hanya mengajarkan pengetahuan agama. Dalam praktiknya, pendidikan pesantren juga mengenalkan disiplin, kemandirian, adab, keteladanan, kehidupan bersama, tanggung jawab, serta pembiasaan ibadah. Nilai-nilai tersebut sangat dekat dengan kebutuhan parenting masa kini.

Orang tua hari ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Anak tumbuh bersama internet. Gadget hadir sejak usia dini. Media sosial membentuk cara anak melihat dunia. Informasi begitu mudah diperoleh, tetapi tidak semuanya baik untuk perkembangan anak.

Maka muncul pertanyaan penting:

Bagaimana mendidik anak agar tetap dekat dengan nilai Islam tanpa membuat mereka merasa terasing dari zamannya?

Di sinilah kehadiran praktisi parenting Islami menjadi penting.

Artikel ini merangkum 5 praktisi parenting Islami di Indonesia yang memiliki keterkaitan kuat dengan pendidikan pesantren, baik melalui pengalaman pendidikan, aktivitas profesional, maupun kiprah mereka dalam lingkungan pesantren. Daftar ini bukan klaim bahwa kelimanya merupakan satu-satunya praktisi terbaik, melainkan rekomendasi tokoh yang menarik untuk dipertimbangkan oleh sekolah, pesantren, yayasan, dan komunitas orang tua.

Catatan editorial: istilah “latar belakang pendidikan pesantren” digunakan secara hati-hati. Pada beberapa tokoh, sumber publik secara eksplisit mencatat pendidikan pesantren; pada tokoh lain, sumber lebih kuat menunjukkan keterlibatan profesional mereka dalam ekosistem pesantren dan parenting Islami. Karena itu, artikel ini tidak mengarang riwayat pendidikan yang tidak tersedia secara publik.

Mengapa Parenting Islami Semakin Dibutuhkan?

Parenting Islami bukan berarti setiap persoalan anak dijawab hanya dengan nasihat agama.

Justru sebaliknya.

Parenting Islami berusaha mempertemukan nilai Islam, ilmu pendidikan, pemahaman perkembangan anak, keteladanan orang tua, dan realitas kehidupan modern.

Anak membutuhkan aturan, tetapi juga membutuhkan hubungan.

Anak membutuhkan disiplin, tetapi juga membutuhkan rasa aman.

Anak membutuhkan nasihat, tetapi lebih membutuhkan contoh.

Dan yang paling penting, anak tidak hanya perlu menjadi pintar, tetapi juga perlu tumbuh menjadi manusia yang memiliki iman, akhlak, tanggung jawab, dan kemampuan menghadapi kehidupan.

Karena itu, ketika sekolah atau pesantren mengadakan seminar parenting, pemilihan narasumber sebaiknya tidak hanya berdasarkan popularitas.

Perhatikan juga pengalaman, bidang keahlian, karakter penyampaian, serta kesesuaian nilai narasumber dengan visi lembaga.

Berikut lima nama yang dapat menjadi referensi.

1. Dr. Awaluddin Faj, M.Pd. – Parenting Pesantren dan Pendidikan Islam

Jika berbicara mengenai parenting pesantren, pendidikan Islam, dan pengembangan sekolah, nama Dr. Awaluddin Faj menjadi salah satu tokoh yang relevan untuk diperhatikan.

Dr. Awaluddin Faj merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2001–2006. Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, ia melanjutkan pendidikan di UNIDA Gontor, kemudian Magister Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Jakarta dan pendidikan doktoral di Universitas Ibn Khaldun Bogor. (id.linkedin.com)

Latar belakang tersebut kemudian beririsan dengan aktivitas profesionalnya sebagai konsultan pendidikan Islam, trainer, motivator, pimpinan pesantren, dan praktisi pendidikan.

Menariknya, kiprahnya dalam parenting tidak berdiri sendiri.

Sejak 2013, ia aktif membimbing dan memberikan edukasi kepada calon santri dan orang tua melalui program persiapan masuk pesantren. PRIMAGO juga berkembang dari program bimbingan masuk Gontor menjadi lembaga pendidikan dan pesantren. (primagoschool.com, gontor.ac.id)

Pengalaman tersebut membuat pendekatan parenting yang dibawa dekat dengan realitas keluarga yang sedang mempersiapkan anak memasuki dunia pesantren.

Fokus yang dapat dibawa dalam seminar parenting

Beberapa tema yang relevan antara lain:

  • Parenting untuk calon wali santri.
  • Mempersiapkan mental anak masuk pesantren.
  • Sinergi orang tua dan pesantren.
  • Pendidikan karakter anak.
  • Parenting di era digital.
  • Membangun mindset pendidikan Islam.
  • Memahami dunia pesantren dari perspektif orang tua.
  • Membangun komunikasi orang tua dan anak.
  • Pendidikan berbasis karakter dan akhlak.

Dalam sebuah seminar parenting di Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago, Dr. Awaluddin Faj membahas bagaimana orang tua menghadapi perubahan zaman dan penggunaan teknologi oleh anak. Ia menekankan bahwa teknologi tidak harus selalu dilihat sebagai ancaman, tetapi perlu diarahkan agar digunakan secara bijak. (primagoconsulting.com)

Pendekatan semacam ini menarik karena orang tua tidak diajak untuk takut terhadap zaman.

Orang tua justru diajak memahami zaman agar mampu mendidik anak di dalamnya.

Itulah salah satu prinsip penting parenting modern:

Jangan hanya mempersiapkan anak untuk dunia yang kita kenal. Persiapkan mereka untuk dunia yang akan mereka hadapi.

Bagi sekolah Islam, pesantren, dan yayasan yang ingin mengadakan seminar parenting dengan nuansa pendidikan Islam, pesantren, karakter, dan perkembangan anak, Dr. Awaluddin Faj menjadi salah satu pilihan yang relevan.

2. Dr. KH. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A. – Parenting Berbasis Nilai dan Keteladanan Pesantren

Nama berikutnya memiliki hubungan yang sangat kuat dengan tradisi pendidikan pesantren, khususnya Pondok Modern Darussalam Gontor.

Dr. KH. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi merupakan salah satu putra KH Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Riwayat pendidikannya mencakup pendidikan di Gontor, kemudian Universitas Islam Madinah serta pendidikan lanjutan di Punjab University, Pakistan. Ia juga dikenal sebagai guru senior dan pengasuh di lingkungan Gontor. (ppikpm.gontor.ac.id)

Keterkaitan beliau dengan parenting Islami terlihat jelas dalam kegiatan Tausiyah Islamic Parenting yang pernah diselenggarakan oleh alumni Gontor Putri.

Dalam kegiatan tersebut, beliau menyampaikan gagasan bahwa keluarga juga perlu mendapatkan pendidikan Islam. Pendidikan anak tidak selesai ketika anak berada di sekolah atau pesantren.

Justru rumah adalah bagian penting dari proses pendidikan.

Beliau menekankan sejumlah fondasi seperti:

  • Mengajarkan iman.
  • Membiasakan shalat.
  • Mengajarkan Al-Qur’an.
  • Mengajarkan birrul walidain.
  • Mendoakan anak.
  • Mengontrol perkembangan anak.
  • Membangun keluarga dengan nilai-nilai Islam. (gontornews.com)

Pendekatan ini menunjukkan sebuah prinsip sederhana tetapi sangat penting:

Pendidikan anak tidak boleh berhenti di gerbang sekolah.

Jika sekolah mengajarkan kedisiplinan tetapi rumah membiarkan sebaliknya, anak menerima dua pesan yang berbeda.

Jika pesantren mengajarkan adab tetapi orang tua tidak menjadi teladan, proses pendidikan menjadi kurang utuh.

Maka parenting Islami seharusnya membangun kesinambungan pendidikan antara rumah, sekolah, dan lingkungan sosial anak.

Inilah yang membuat pendekatan berbasis pesantren menarik untuk lembaga pendidikan.

Karena pesantren sejak awal memang memiliki konsep pendidikan yang menyatukan pembelajaran, pembiasaan, keteladanan, dan kehidupan sehari-hari.

3. Dr. Eko Asmanto, M.A. – Parenting, Pendidikan, dan Penguatan Karakter

Dr. Eko Asmanto merupakan akademisi dan tokoh pendidikan yang juga aktif dalam lingkungan alumni Gontor.

Namanya tercatat sebagai Ketua PC IKPM Gontor Sidoarjo dan terlibat dalam berbagai kegiatan pendidikan serta pembinaan masyarakat. (ppikpm.gontor.ac.id)

Yang membuatnya relevan dalam pembahasan parenting adalah keterlibatannya sebagai narasumber Hypno Parenting dalam kegiatan yang ditujukan kepada calon wali santri.

Dalam kegiatan tersebut, materi parenting tidak berdiri sendiri, tetapi dikaitkan dengan kesiapan orang tua dalam mempercayakan pendidikan anak kepada pesantren. (ppikpm.gontor.ac.id)

Ini menjadi penting karena keputusan memasukkan anak ke pesantren bukan hanya keputusan pendidikan.

Bagi banyak keluarga, itu adalah keputusan emosional.

Orang tua harus belajar:

melepaskan dengan percaya,
mendampingi tanpa terlalu mengontrol,
mendidik tanpa kehilangan kasih sayang.

Di sinilah kesiapan orang tua menjadi sama pentingnya dengan kesiapan anak.

Anak mungkin sudah siap membawa koper.

Anak mungkin sudah siap membeli perlengkapan pesantren.

Anak mungkin sudah hafal daftar barang yang harus dibawa.

Tetapi pertanyaan yang lebih dalam adalah:

Apakah orang tuanya sudah siap melepaskan?

Kesiapan mental orang tua sangat menentukan bagaimana proses adaptasi anak berjalan.

Karena itu, seminar parenting untuk wali santri idealnya tidak hanya membahas “bagaimana mendidik anak”, tetapi juga bagaimana orang tua mendidik dirinya sendiri.

4. Ustadz Muhammad Faishal Fadhli, S.Pd. – Parenting dan Pendidikan Keluarga

Ustadz Muhammad Faishal Fadhli merupakan salah satu pendidik dan dai muda yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren.

Ia tercatat sebagai alumni Pondok Pesantren Darusy Syahadah KMI angkatan 14 dan alumni Program Kaderisasi Ulama Universitas Darussalam Gontor. Saat ini ia juga aktif sebagai salah satu dosen di Ma’had Aly An-Nuur dan dai muda di Solo Raya. (darusyahadah.com)

Keterlibatannya dalam parenting terlihat dalam kajian bertema:

“Ibu adalah Madrasah Pertama.”

Kajian tersebut secara khusus membahas peran ibu dalam pendidikan anak dan diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian parenting. (yayasanmiftahussaadah.com)

Tema tersebut sebenarnya menyentuh sebuah konsep yang sangat kuat dalam pendidikan Islam.

Sebelum anak mengenal guru di sekolah, ia mengenal wajah orang tuanya.

Sebelum anak memahami buku, ia belajar dari suasana rumah.

Sebelum anak memahami teori akhlak, ia melihat bagaimana ayah dan ibunya berbicara.

Dengan kata lain:

anak belajar bukan hanya dari apa yang kita ajarkan, tetapi dari apa yang kita contohkan.

Maka seorang ibu bukan sekadar pengasuh.

Ayah juga bukan sekadar pencari nafkah.

Keduanya memiliki peran pendidikan.

Untuk sekolah Islam dan pesantren, tema seperti “orang tua sebagai pendidik pertama”, “sinergi rumah dan sekolah”, “pendidikan akhlak di keluarga”, serta “membangun keluarga sebagai madrasah” sangat relevan untuk dikembangkan menjadi seminar parenting.

5. Ninik Ni’maturrahmaniyyah – Trainer dan Pegiat Parenting dalam Ekosistem Gontor

Nama berikutnya adalah Ninik Ni’maturrahmaniyyah, yang tercatat sebagai trainer dan pegiat parenting dalam kegiatan Silaturahmi Nasional alumni Gontor Putri.

Dalam agenda tersebut, dialog mengenai parenting menjadi salah satu bagian kegiatan yang mempertemukan komunitas alumni dan keluarga besar Gontor. (gontor.ac.id)

Kehadiran praktisi seperti Ninik menunjukkan bahwa parenting Islami di lingkungan pesantren tidak hanya berkembang melalui ceramah keagamaan, tetapi juga melalui pelatihan, dialog keluarga, pengalaman pengasuhan, dan komunitas orang tua.

Ini merupakan pendekatan yang semakin penting.

Mengapa?

Karena orang tua tidak selalu membutuhkan ceramah panjang.

Kadang mereka membutuhkan seseorang yang berkata:

“Saya memahami masalah Anda.”

Kemudian membantu mereka melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Anak yang sulit bangun pagi.

Anak yang kecanduan gadget.

Anak yang tidak mau belajar.

Anak yang mulai memasuki usia remaja.

Anak yang sulit berkomunikasi dengan orang tua.

Anak yang mulai mempertanyakan banyak hal.

Semua membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Parenting yang efektif bukan tentang mencari satu resep untuk semua anak.

Setiap anak adalah amanah dengan karakter, kebutuhan, dan perjalanan yang berbeda.

Karena itu, kemampuan seorang praktisi untuk menghubungkan nilai Islam dengan realitas kehidupan keluarga menjadi sangat penting.

Apa yang Membuat Parenting Berbasis Pesantren Menarik?

Jika diperhatikan, kelima nama di atas memiliki irisan yang menarik.

Ada satu kata yang terus muncul:

keteladanan.

Pesantren mengajarkan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan.

Santri hidup bersama guru.

Mereka melihat bagaimana guru berbicara.

Bagaimana guru beribadah.

Bagaimana guru menyelesaikan masalah.

Bagaimana guru memperlakukan orang lain.

Artinya, pendidikan berlangsung selama 24 jam.

Konsep ini sangat relevan dengan parenting.

Sebab rumah juga merupakan “pesantren kecil” bagi anak.

Anak mengamati.

Anak meniru.

Anak menyimpan pengalaman.

Kemudian pengalaman tersebut perlahan membentuk kepribadiannya.

Maka pertanyaan parenting yang paling penting bukan hanya:

“Bagaimana membuat anak menjadi baik?”

Tetapi:

“Sudahkah kita menjadi contoh kebaikan yang ingin kita lihat pada anak?”

Jika ingin anak rajin membaca Al-Qur’an, apakah anak melihat orang tuanya membaca Al-Qur’an?

Jika ingin anak berbicara sopan, bagaimana cara orang tua berbicara ketika sedang marah?

Jika ingin anak disiplin, apakah aturan di rumah juga berlaku bagi orang tua?

Jika ingin anak dekat dengan Allah, apakah anak melihat orang tuanya menjadikan Allah sebagai tempat kembali ketika menghadapi masalah?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sering kali justru menjadi pintu masuk parenting Islami yang paling dalam.

Bagaimana Memilih Praktisi Parenting Islami untuk Sekolah atau Pesantren?

Tidak semua narasumber cocok untuk semua audiens.

Sekolah perlu menentukan terlebih dahulu kebutuhan seminar.

Untuk wali murid

Pilih tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti:

  • komunikasi orang tua dan anak;
  • parenting di era digital;
  • pendidikan akhlak;
  • membangun kedekatan dengan anak;
  • menghadapi anak usia remaja.

Untuk wali santri

Materinya dapat diarahkan pada:

  • kesiapan orang tua melepas anak mondok;
  • sinergi rumah dan pesantren;
  • komunikasi dengan anak selama mondok;
  • menghadapi homesick;
  • peran orang tua setelah anak masuk pesantren.

Untuk guru dan pengasuh

Materi dapat diperluas menjadi:

  • psikologi pengasuhan;
  • komunikasi dengan santri;
  • disiplin tanpa kekerasan;
  • membangun keteladanan;
  • menangani konflik anak;
  • membangun budaya pengasuhan yang sehat.

Untuk siswa dan remaja

Pendekatan perlu dibuat lebih interaktif.

Jangan hanya berbicara:

“Kalian harus taat kepada orang tua.”

Tetapi ajak mereka memahami:

“Mengapa hubungan dengan orang tua begitu penting bagi masa depan kalian?”

Dengan pendekatan seperti ini, peserta tidak hanya menerima informasi.

Mereka mulai merasakan, memahami, dan menghubungkan materi dengan kehidupannya sendiri.

Inilah salah satu prinsip komunikasi yang kuat dalam gaya NLP: pesan akan lebih mudah diterima ketika seseorang dapat menghubungkan informasi dengan pengalaman, emosi, dan gambaran masa depan yang ingin ia capai.

Parenting Islami Bukan Sekadar Seminar

Satu hal yang perlu dipahami sekolah dan pesantren adalah bahwa seminar parenting hanyalah awal.

Perubahan tidak terjadi hanya karena orang tua mendengarkan materi selama dua jam.

Perubahan terjadi ketika pemahaman baru berubah menjadi kebiasaan.

Karena itu, program parenting yang baik dapat dibuat berkelanjutan.

Misalnya:

Seminar → Workshop → Pendampingan → Evaluasi → Follow-up

Sekolah dapat membuat tema berbeda setiap semester.

Semester pertama membahas komunikasi.

Semester kedua membahas digital parenting.

Semester ketiga membahas pendidikan karakter.

Semester keempat membahas parenting remaja.

Dengan cara ini, parenting tidak menjadi kegiatan seremonial.

Ia berubah menjadi budaya pendidikan keluarga.

Dan ketika sekolah serta orang tua bergerak bersama, anak mendapatkan pesan pendidikan yang lebih konsisten.

Rumah, Sekolah, dan Pesantren Harus Berjalan dalam Satu Arah

Pada akhirnya, pendidikan anak bukan pekerjaan satu pihak.

Bukan hanya guru.

Bukan hanya orang tua.

Bukan hanya pesantren.

Semuanya harus saling menguatkan.

Bayangkan sebuah perahu.

Orang tua mendayung ke kanan.

Sekolah mendayung ke kiri.

Pesantren mendayung ke arah yang berbeda.

Perahu tetap bergerak, tetapi tidak sampai ke tujuan dengan optimal.

Namun ketika semuanya memiliki visi yang sama, perjalanan menjadi jauh lebih terarah.

Orang tua memberikan fondasi.
Sekolah memberikan penguatan.
Pesantren memberikan lingkungan.
Anak menjalani proses pertumbuhan.

Inilah sinergi pendidikan yang sesungguhnya.

Dan di sinilah peran praktisi parenting Islami menjadi sangat penting.

Mereka dapat menjadi jembatan antara teori, nilai agama, pengalaman pendidikan, dan realitas keluarga.

Mendidik Anak Berarti Menyiapkan Masa Depan

Anak-anak hari ini akan menjadi orang dewasa beberapa tahun lagi.

Mereka akan menjadi guru.

Pemimpin.

Pengusaha.

Ayah.

Ibu.

Ulama.

Profesional.

Dan mungkin suatu hari mereka akan berdiri di tempat yang sekarang ditempati oleh orang tua mereka.

Pertanyaannya:

Apa yang akan mereka bawa dari rumah?

Apakah hanya nilai akademik?

Atau juga adab?

Apakah hanya keterampilan?

Atau juga iman?

Apakah hanya keberanian?

Atau juga tanggung jawab?

Karena itu, memilih praktisi parenting Islami di Indonesia bukan sekadar mencari pembicara untuk mengisi acara.

Yang sedang dicari sebenarnya adalah orang yang mampu membantu orang tua melihat kembali tujuan pendidikan anak.

Bukan hanya agar anak sukses.

Tetapi agar anak menjadi manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, mandiri, dan bermanfaat bagi orang lain.

Jika sekolah, pesantren, yayasan, atau komunitas Anda sedang merencanakan seminar parenting Islami, parenting pesantren, pelatihan orang tua, pendidikan karakter, seminar wali santri, atau program sinergi orang tua dan sekolah, PRIMAGO Consulting dapat membantu menyiapkan konsep kegiatan dan narasumber yang disesuaikan dengan kebutuhan lembaga.

Karena pendidikan anak tidak cukup hanya dilakukan di sekolah.

Rumah harus ikut mendidik.
Sekolah harus ikut menguatkan.
Dan semua harus bergerak dengan nilai yang sama.

Ingin Mengadakan Seminar Parenting Islami di Sekolah atau Pesantren?

Hubungi PRIMAGO Consulting melalui WhatsApp: 0895-3230-03088 untuk mendiskusikan kebutuhan seminar, tema parenting, karakter peserta, format kegiatan, dan konsep program yang sesuai dengan visi lembaga Anda.

PRIMAGO Consulting — Membangun Pemimpin, Menguatkan Lembaga, Menumbuhkan Generasi.

5 praktisi parenting islam di indonesia
5 praktisi parenting islam di indonesia

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *